Minggu, 27 November 2011

Buku Cersil Samurai: Kastel Awan Burung Gereja

Salju pada musim semi mungkin perumpamaan yang terlalu jauh, bahkan untuk sekadar metafora. Heiko tumbuh di sebuah desa nelayan di sa Domain. Kesenangan bermain di bawah matahari saat kanak-kanak tidak bisa sepenuhnya terhapus. Pipinya tetap berbintik meski sedikit. Sedangkan, salju musim semi tidak berbintik. Namun, tetap ada sinar bulan yang bisa menutupinya. Lelaki itu bersikeras bahwa Heiko punya wajah yang bersinar bak rembulan. Lagi pula siapa dirinya, yang berani menentang dan tidak setuju dengan lelaki itu?


Heiko berharap lelaki itu memandangnya. Heiko adalah seorang yang anggun, bahkan saat dia benar-benar tidur. Ketika dia menunjukkan kemampuannya berakting, seperti yang dilakukannya saat ini, pengaruhnya pada kaum lelaki biasanya tidak terelakkan. Apa yang akan dilakukan pria itu? Apakah dia hanya akan memandang kecantikannya yang polos? Ataukah dia akan tersenyum, menunduk dan membangunkannya dengan belaian lembut? Ataukah seperti yang selalu dilakukannya, lelaki itu akan dengan sabar menunggu mata Heiko terbangun sendiri secara perlahan?

Terkaan-terkaan seperti itu biasanya tidak mengganggu Heiko saat dia bersama lelaki lain, bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Tetapi, lelaki yang satu ini berbeda. Dengannya, Heiko sering menemukan dirinya larut dalam angan-angan semacam itu. Apakah itu karena lelaki ini memang lain dari yang lain, Heiko bertanya-tanya, ataukah karena hanya pada pria inilah dia menyerahkan hatinya?

Genji ternyata tidak melakukan satu pun persangkaan Heiko. Malahan, dia berdiri dan berjalan menuju jendela yang membuka ke arah Teluk Edo. Dia berdiri bertelanjang dada di depan jendela itu, dalam dinginnya fajar, dan memandang apa pun yang sedang dipandangnya dengan perhatian penuh. Satu dua kali dia menggigil kedinginan, tetapi tak beranjak untuk menutupi tubuhnya dengan baju. Heiko tahu bahwa ketika remaja Genji pernah menjalani latihan keras dengan para rahib Tendai di Puncak Gunung Hiei. Para ahli mistik yang keras itu terkenal menguasai teknik pembangkitan panas tubuh sehingga mereka mampu berdiri telanjang di bawah guyuran air terjun sedingin es selama berjam-jam. Genji sangat bangga pernah menjadi murid mereka. Heiko mendesah pelan dan bergerak, yang dibuatnya seakan gerak yang wajar dan ringan dalam tidur, untuk menahan tawa yang hampir meloncat keluar dari mulutnya. Jelas terlihat bahwa Genji belum menguasai teknik pembangkitan panas tubuh sebaik yang dia harapkan.

Desahannya, yang sering memperdaya pria, ternyata tidak mengganggu Genji dari pengamatannya ke arah Teluk Edo. Tanpa menoleh ke arahnya, Genji mengambil teleskop kuno buatan Portugis, menariknya hingga panjangnya maksimal, dan memfokuskannya ke teluk. Heiko pun akhirnya merelakan dirinya untuk merasa kecewa. Dia telah berharap…. Apa yang dia harapkan sebenarnya? Harapan, kecil atau besar, hanyalah sikap yang terlalu memperturutkan keinginan, lain tidak.

Heiko membayangkan Genji yang berdiri di depan jendela tanpa perlu melihatnya. Genji pasti akan menyadari bahwa sebenarnya Heiko sudah bangun, jika dia terlalu memaksakan diri untuk melihat apa yang sedang diamati laki-laki itu. Bahkan, sebenarnya dia tak begitu yakin apa Genji belum tahu bahwa dia sudah terbangun. Barangkali itulah yang menjelaskan mengapa tadi Genji mengabaikannya saat terbangun, dan mengabaikannya lagi saat dia mendesah. Dia sedang menggoda Heiko. Atau, mungkin tidak. Susah ditentukan. Maka, Heiko berhenti bertanya-tanya dan hanya membayangkannya.

Genji agak terlalu cantik untuk seorang pria. Dan caranya membawa diri yang sangat santai dan tidak bergaya samurai, membuatnya terlihat sembrono, lemah, bahkan agak feminim. Namun, penampilan luar memang menipu. Tanpa baju, sungguh terlihat jelas garis-garis otot yang menandakan keseriusannya dalam menekuni bela diri. Mereka yang berdisiplin perang biasanya meninggalkan dunia cinta. Heiko merasa dirinya hangat oleh kenangan, dan dia pun mengeluh tanpa sengaja. Kini, sangat sulit baginya untuk tetap pura-pura tidur. Maka, Heiko pun membuka mata. Dia memandang Genji dan melihat figur yang tadi telah dia bayangkan. Apa pun yang ada di ujung lain teleskop itu pasti sangat menarik karena benar-benar menguras seluruh perhatian Genji.

Silakan unduh bukunya di sini untuk membaca cerita selengkapnya. Selamat menikmati dan teruslah berbagi.

.........TERKAIT.........

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...